“Sometimes, when someone gives us the chance to talk about what has happened to us and how we feel about it, we start to realize the best way to change our thoughts and behaviors.”
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.
Entah kenapa terasa sangat pribadi.
Seolah ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi aku.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dan aku membiarkannya begitu saja.
Bukan karena tidak ingin, bukan karena tak cukup berani. Tapi karena… saat itu, aku merasa kami hidup di dua semesta yang berbeda. Aku berdiri di lantai dasar, sementara dia… bersinar dari jendela paling tinggi.
Aku ingat hari itu.
Langit berwarna jingga, sore yang berat sebelah antara senja dan malam. Dia berdiri di seberang taman kampus, mengenakan kemeja putih dengan tangan terlipat di depan dada, tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan temannya. Aku bahkan tak tahu namanya—belum saat itu.
Tapi ada sesuatu yang menetap.
Tatapan kosongku menabrak pemandangan itu, dan tanpa tahu kenapa, dadaku terasa penuh.
Penuh… dan kosong sekaligus.
Jatuh cinta dalam diam adalah hal paling riuh yang tak bersuara.
Hari berganti minggu, dan aku tetap diam.
Sampai hari itu datang.
Hari ketika semuanya mulai berubah—perlahan, lalu sekaligus.
Kami bertemu dalam satu forum diskusi. Kebetulan. Atau mungkin takdir yang menyamar sebagai pertemuan biasa. Dia duduk di sebelahku. Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya bukan dari kejauhan, bukan dari anganku.
"Aku suka catatanmu barusan," katanya, menunjuk lembaran coretan yang hampir kulempar ke tempat sampah. "Kau menulis seperti sedang berdamai dengan sesuatu."
Aku tertawa gugup. “Mungkin. Tapi kadang aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kuhadapi.”
Dan di situlah segalanya dimulai.
Dia mendengarkan. Tidak sekadar diam, tapi hadir.
Seperti langit yang tak banyak bicara tapi selalu ada di atas kepala.
Dalam diamnya, dia memberiku ruang. Untuk bicara. Untuk mengurai. Untuk menemukan diriku yang mulai pudar.
“Apa yang sebenarnya kau takutkan?” tanyanya suatu malam.
Aku menghela napas.
“Bahwa aku terlalu biasa untuk seseorang sepertimu.”
Sunyi. Tapi bukan yang menakutkan.
Lalu dia menatapku, tidak dari atas, tidak dari bawah.
Tapi sejajar.
“Lucu. Aku pun pernah merasa begitu padamu.”
Saat itulah aku sadar—betapa sering kita membiarkan segalanya menguap karena asumsi sendiri.
Bahwa rasa yang paling jujur pun bisa tenggelam jika tak pernah kita beri ruang untuk hidup.
Dan dalam percakapan-percakapan kecil itulah, aku berubah.
Perlahan. Lalu seutuhnya.
Jika aku bisa mengulang waktu, mungkin aku akan tetap membiarkannya berjalan seperti ini. Karena pada akhirnya, cinta tak selalu perlu gegas. Kadang ia hanya butuh ruang untuk tumbuh, dan telinga yang benar-benar mendengar.
Dan aku bersyukur, karena dia memberiku itu—kesempatan untuk bicara…
dan mendengar hatiku sendiri.